Kompas.com – Selasa, 8 Desember 2009 | 02:45 WIB
Dari atas, tampak atap rumah penduduk dan kebun sayur. Pemandangan ini sebenarnya sudah memperlihatkan masalah ekonomi di Desa Doulu. Atap tampak kusam.
Jalanan rusak yang tampak kotor dan berdebu makin memperlihatkan masalah ekonomi yang serius.
Akan tetapi, ini berkebalikan dengan sabuk hutan yang mengitari desa itu. Hutan tampak lebat dan tak ada wajah bolong akibat penebangan. Hutan yang utuh tak memperlihatkan adanya perusakan kawasan itu. Hanya kabut yang kadang menutupi wajah hutan itu sehingga kadang warna hijau diganti warna putih sesaat.
”Kami tak pernah merusak hutan itu. Untuk mengambil humusnya saja, kami tak pernah melakukannya,” kata Kurniawan Tarigan (38), warga Desa Doulu. Pernyataan Kurniawan ini juga diungkapkan sejumlah warga lain.
Penduduk desa yang terletak di Kecamatan Berastagi, Kabupaten Karo—terkenal karena menjadi pemasok sayur dan buah—hidup berdampingan dengan hutan. Mereka benar-benar berdampingan dengan hutan! Di belakang rumah penduduk langsung berdiri pohon-pohon dan semak belukar yang masuk dalam kawasan Bukit Barisan.
Bila mereka tamak, sudah pasti hutan itu sejak lama dijarah. Apalagi kemiskinan menjadi nyata di desa itu semenjak produksi mereka berupa sejumlah sayuran tidak bisa lagi masuk ke pasar ekspor, seperti ke Malaysia dan Singapura, sejak tahun 2000 hingga sekarang.
Keruntuhan pamor produk mereka, seperti daun bawang, daun seledri, wortel, dan bawang putih, sudah pasti menurunkan pendapatan mereka. Sudah sekitar 10 tahun ekspor produk hortikultura berupa sayur dan buah dibiarkan terhenti. Tuduhan bahwa produk sayur dan buah dari kota itu mengandung pestisida yang sangat tinggi tidak pernah dikaji sehingga para petani tak bisa lagi mengirim produk mereka ke negara tetangga.
”Dulu kami berjaya bisa mengirim berton-ton sayur ke Malaysia dan Singapura, tetapi sejak akhir tahun 1990 terhenti. Kami hanya mendengar, ekspor terhenti karena hasil pertanian kami mengandung pestisida sangai tinggi, tetapi kami tak tahu pasti penyebabnya,” kata Garik, petani dan juga pengepul sayur.
Ia mengisahkan, ketika sayur dan buah diterima di pasar ekspor, satu kali pengiriman bisa mencapai 20 ton. Akan tetapi, sekarang sama sekali tidak ada pengiriman. Pengiriman sayur dan buah hanya untuk pasar lokal, yaitu di Medan. Dalam sekali pengiriman sekitar 1,5 ton.
Para petani mengaku mendapat kabar sejak produk mereka tidak bisa lagi diterima pasar Malaysia dan Singapura, kedua negara itu mengandalkan pasokan sayur dan buah dari Thailand. Sejak saat itulah, pendapatan mereka menurun.
Kurniawan berharap pemerintah mau meneliti masalah ini sehingga petani mengetahui secara pasti penyebab tidak diterimanya produk mereka di pasar ekspor.
Namun, harapan mereka sepertinya tak akan mendapat perhatian. Pamor produk mereka hilang dan akan terus hilang sebelum ada pemerintah yang memerhatikan nasib mereka.
Meski ditimpa masalah seperti itu, mereka tak tergerak untuk merusak hutan atau mengeksploitasinya hanya sekadar mendapatkan uang. Mereka lebih berpikir panjang dari sekadar mengeruk uang dari hutan itu. ”Hutan tetap seperti ini sejak dulu. Walau tak disuruh, kami tetap membiarkan hutan seperti ini,” kata Darta Sembiring (44), warga Doulu lainnya.
Hutan tetap dibiarkan ”seram” dengan kayu-kayu yang besar dan semak yang mengepung kawasan itu.
”Kami sadar kalau bukit di sekitar kami longsor, kami tidak bisa ke mana-mana. Longsor kecil saja sudah menjadi masalah, anak-anak tak bisa bersekolah,” kata Darta. (MAR)




