Menggusur Kemiskinan atau Penduduk Miskin?

Bupati Boalemo (Sulawesi Utara) Iwan Bokings memang cerdik, dan karena itu pantas diacungi jempol. Kritik sering dilontarkan bahwa pejabat merancang program pengentasan kemiskinan, tetapi nyatanya bukan menggusur kemiskinan, melainkan mengubah suatu wilayah kumuh menjadi wilayah baru yang cemerlang.

penduduk miskinKarena tempatnya strategis, maka semua penduduk miskinnya digusur. Penghuni wilayah strategis yang terkesan kumuh digusur ke luar kota. Semula mereka happy karena mendadak menerima pesangon. Akhirnya mereka menyesal karena kehilangan pekerjaan. Hidupnya bertambah sengsara karena di tempat barunya tidak ada kesempatan kerja yang memadai.

Bupati Boalemo Iwan Bokings cukup cerdik. Dalam kemasan Program Terpadu P2WKSS, yang merupakan program pemberdayaan keluarga yang sedang dikembangkan melalui pos pemberdayaan keluarga (posdaya), ia memberdayakan keluarga dari dua desa yang dianggap sangat miskin. Dua desa dimaksud yaitu Desa Kotaraja dan Pangi. Dengan persetujuan DPRD dan seluruh aparatnya, digelar pertemuan antara unsur tim penggerak PKK, aparat pemerintah dan lainnya untuk mengubah program rutin kecil-kecilan dan bersifat ad hoc menjadi program raksasa dengan menempatkan keluarga miskin sebagai titik sentral pembangunan. Program ini bukan program pro poor, melainkan menempatkan keluarga miskin menjadi pemeran, menjadi “aktor” yang dinamis.

Program dimulai dengan advokasi yang intensif di kalangan internal pemerintah dan tim penggerak PKK. Pemerintah juga bekerja sama dengan jajaran DPRD, menyangkut rancangan yang digodok dengan matang. Setelah itu bersama-sama ditetapkan dua desa dengan perhitungan yang matang.

Kemudian, seluruh keluarga muda potensial berumur 16-50 tahun, yang usia subur tetapi pendidikannya rendah dan miskin, atau dengan ciri-ciri keluarga prasejahtera, keluarga sejahtera I, keluarga sejahtera II, III dan III plus, menurut kriteria BKKBN, didata langkap. Para pejabat terkait ditugasi melakukan sosialisasi kepada seluruh sasaran keluarga dengan tujuan mengubah setiap keluarga menjadi aktor yang bersedia bekerja keras.

Bersamaan dengan proses sosialisasi, Bupati Iwan Bokings dan aparatnya membenahi seluruh jajaran di pedesaan agar mampu memfasilitasi pekerjaan besar yang akan digarap. Gerakan tersebut digarap bersama rakyat, dengan partisipasi rakyat. Artinya, rakyatnya dikembangkan menjadi aktor yang mampu dan dinamis.

Untuk itu, bupati dan aparatnya segera menyediakan alat kelengkapan program berupa dukungan administrasi pelaporan dan buku petunjuk yang diperlukan. Di kabupaten yang lain, yang tidak berada dalam “proyek” dan ingin meniru atau melaksanakan kegiatan serupa tidak dilarang. Kebijaksanaan ini sangat luar biasa karena Bupati Iwan Bokings menganggap keberhasilan gerakan masyarakat justru harus diikuti dengan partisipasi yang luas.

Bupati Iwan menganjurkan, biarpun pusat menetapkan 75 keluarga menjadi sasaran proyek, tetapi siapa saja, bahkan keluarga desa-desa di dekatnya, boleh dan bahkan didukung secara moril untuk meniru apa yang akan dan sedang dikerjakan di kedua desa binaan tersebut. Satu demi satu kegiatan dilaksanakan secara bertahap melalui pelatihan keluarga miskin di pedesaan untuk menjadi pemeran pembangunan.

Posyandu untuk ibu hamil dan keluarga berencana (KB) dikembangkan agar setiap keluarga tidak dibebani kehamilan yang tidak direncanakan. Ibu muda segera bisa berlatih keterampilan untuk maju dan anak-anak balita bertambah sehat.

Keluarga yang meningkat kesadarannya diajak bergabung dalam kegiatan pemberantasan buta aksara sebagai awal dari kegiatan pelatihan keterampilan dan upaya ekonomi produktif. Secara perlahan tetapi pasti, keluarga yang berwiraswasta diajak bergabung dalam wadah koperasi yang dengan fasilitasi pemerintah ditetapkan sebagai koperasi berbadan hukum.

Dengan kegiatan yang dipandu oleh tim penggerak PKK dan aparat pemerintah daerah (pemda) secara intensif, sikap dan tingkah laku keluarga pedesaan makin percaya diri. Mereka diajak berbaju seragam untuk menunjukkan kebanggaan dan kebersamaan. Mereka belajar pula menyanyikan lagu-lagu PKK dan lagu perjuangan lain, sehingga terasa adanya perubahan sikap dan pola tingkah laku yang makin kondusif dan dinamis.

Lebih lanjut, dengan pendampingan dinas pertanian dan dinas lainnya, mereka diajak mengolah tanah pertanian dengan lebih intensif, termasuk belajar menanam tanaman sederhana yang kaya gizi, tetapi juga mudah dijual di pasar desa. Mereka pun belajar berdagang, belajar menggarap bahan baku lokal, bahkan mencari komoditas laku jual yang bisa digarap di sekitar rumah. Pada tingkat lebih lanjut, Bupati Boaleno memberi tugas kepada para pejabat eselon II dan III untuk bertindak dengan penuh tanggung jawab sebagai fasilitator keluarga miskin di kedua desa itu.

Dinamika masyarakat miskin di kedua desa yang makin tinggi itu justru memberi harapan dan semangat pembinaan yang makin intensif. Melihat kondisi rumah yang bisa dikatakan tidak layak huni, penduduk kedua kampung itu diberi pelatihan pembuatan batako yang hasilnya untuk mengembangkan Program Aladin, perbaikan atap, lantai, dan dinding yang akhirnya didukung menjadi program pemugaran rumah secara intensif. Model rumah dan tatanan halaman diberi petunjuk fasilitasi yang matang dari jajaran dinas pada pemerintah daerah, tetapi pengerjaannya diserahkan kepada penghuni dan tetangganya.

Perbaikan itu membawa dampak yang bagus untuk kehidupan koperasi, ekonomi mikro, dan kehidupan sosial lainnya. Masjid makin penuh dengan penduduk shalat berjamaah. Lingkungan makin indah dan semarak. Kesehatan rakyat, utamanya kesehatan ibu dan anak, bertambah baik. Ibu-ibu tampak ceria karena sudah ber-KB dan anak-anaknya sehat dan bersekolah. Mereka makan makanan bergizi setiap hari.

Mereka belum kaya. Umumnya mereka sedang berkembang dan perlu diajak bekerja sama dengan keluarga yang lebih mampu. Persatuan dan kesatuan menjadi kunci masa depan mereka. Bukan kompetisi karena mereka masih akan kalah dan bisa mati kalau harus berkompetisi.***

Senin, 5 April 2010

Oleh Haryono Suyono

Penulis adalah Ketua Umum DNIKS

http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=250104

Leave a Reply