“Apakah LSM masih perlu Ada?” Tanya Dwi Joko, terlontar mengawali diskusi pada wawancara calon asisten program FPPM. Pertanyaan ini menjadi awal yang sama saat FPPM, sebagai forum jaringan LSM, mulai menggeliat kembali berkegiatan.

Pun, pertanyaan ini seolah menjadi pengingat kembali esensi keberadaan LSM di masyarakat. Lebih sederhananya, kenapa LSM harus ada? Apa ada yang salah?. Menyambut pertanyaan-pertanyaan tersebut, para peserta merenung terdiam sampai kesunyian pecah dengan jawaban, “Perlu!” jawab Ima Dewi, tegas. “Ada banyak hal yang belum tersentuh.” Tambah perempuan yang pernah berkecimpung di LSM ini.
Ungkapan Ima Dewi ada benarnya. Ima banyak mencontohkan kasus dimana pemerintah dan ormas-ormas tidak bisa menanganinya sendiri. Bahkan, mereka harus bisa bergandengan tangan memecahkan suatu persoalan. Niken, peserta asal Tasikmalaya inipun membenarkan. Meskipun belum pernah terjun ke dunia LSM, dia berpendapat bahwa LSM mempunyai struktur lebih kuat dan berjangka panjang dalam menangani kasus. “Sedangkan ormas akan bergerak kalau ada kejadian, gerakannya lebih sporadis” tutur perempuan berkerudung ini dengan nada bersemangat.
Contoh kasus, Leni Erlantina menceritakan pengalaman temannya, ada LSM yang bergerak membela hak-hak perempuan, “ketika perempuan itu menikah dan dipukuli suaminya, dia tidak bisa bergerak sendiri. Akhirnya dia pergi ke LSM yang bisa membantu.” Jelas Leni menegaskan bahwa LSM memang perlu ada.
Ada! Itulah kenapa FPPM terus exist dan berkegiatan.
Mas Waidl, begitu dia biasa di sapa, menjelaskan bahwa kegiatan FPPM lebih fokus pada isu demokrasi dan partisipasi publik, negara dan pemenuhan hak dasar, dan tentang jaringan gerakan. “lalu, bagaimana tanggapan teman-teman terhadap isu tersebut?” lanjutnya melontarkan pertanyaan.
Menjawab hal tersebut, Niken menjelaskan bahwa dalam isu pendidikan misalnya, saat ini banyak yang ingin jadi PNS dan guru banyak mengejar sertifikasi. di lain sisi, pemerintah mengiming-imingi gaji guru di atas dua juta sedangkan kualitasnya kurang, dan banyak guru yang menganak emaskan orang kaya, padahal banyak juga anak yang kurang mampu tapi dia tidak kaya.
Selain itu, Anita menambahkan bahwa pemerintah harus lebih serius dalam mengurus pekerjaan, “Jika orang ingin menjadi PNS, pilihlah orang yang memang benar-benar untuk posisi itu.” Cetusnya.
Nah, kalau begitu masih adakah pertanyaan, apakah LSM perlu ada?
(Dian Mardiana)




