Oleh: A. Budi Susila
Akhir 1987, sejumlah mahasiswa dan akademisi muda yang bergabung dalam Volunteers’ Development Corp (VDC)[1] berkeinginan untuk sekedar mengaktualisasikan diri di tengah kondisi masyarakat yang serba kekurangan alias “wong cilik”. Kondisi pengusaan dan kepemilikan faktor produksi yang minim, budaya bisu, statis, hidup asal jalan, sekedar bertahan dan pendidikan rendah merupakan kondisi riil yang mereka hadapi. Terpaan kebijakan pemerintah yang otokratis, KKN, dan penetrasi kapitalisme ke pedesaan menguasai seluruh sarana-sarana hidup dan kehidupan ikut memperburuk kondisi sosial dan ekonominya, karena tuntutan dan tantangan hidup kebutuhan yang semakin tinggi, serta ketidaksiapan menghadapi berbagai perubahan. [...]
[1] “Tujuh tahun kemudian (Tahun 1995), kelompok mahasiswa yang tergabung dalam VDC tersebut, mendeklarasikan diri sebagai Yayasan Cinde Laras.




